Mengapa Kurikulum Merdeka tidak Langsung ditetapkan untuk Semua Sekolah?

Mengapa Kurikulum Merdeka dijadikan Opsi? Mengapa tidak langsung ditetapkan untuk semua sekolah?

Mengapa Kurikulum Merdeka dijadikan Opsi? Mengapa tidak langsung ditetapkan untuk semua sekolah?
Opsi Kurikulum Merdeka


Pediapendidikan.com - Secara umum pemangku kepentingan berperan untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran, membantu pendidik untuk mengenali kapabilitas dan karakteristik peserta didik agar mampu merancang, melaksanakan dan mendukung terlaksananya pembelajaran yang bermakna.


Para pemangku kepentingan dapat melakukan peran ini jika sudah memahami konsep pembelajaran serta peran yang dapat dilakukan.


Ada dua tujuan utama yang mendasari kebijakan ini.


Pertama, pemerintah, dalam hal ini Kemendikbudristek, ingin menegaskan bahwa sekolah memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai kebutuhan dan konteks masing-masing sekolah.


Kedua, dengan kebijakan opsi kurikulum ini, proses perubahan kurikulum nasional harapannya dapat terjadi secara lancar dan bertahap.


Pemerintah mengemban tugas untuk menyusun kerangka kurikulum. Sedangkan, operasionalisasinya, bagaimana kurikulum tersebut diterapkan, merupakan tugas sekolah dan otonomi bagi guru.


Guru sebagai pekerja profesional yang memiliki kewenangan untuk bekerja secara otonom, berlandaskan ilmu pendidikan.


Sehingga, kurikulum antar sekolah bisa dan seharusnya berbeda, sesuai dengan karakteristik murid dan kondisi sekolah, dengan tetap mengacu pada kerangka kurikulum yang sama.


Perubahan kerangka kurikulum tentu menuntut adaptasi oleh semua elemen sistem pendidikan. Proses tersebut membutuhkan pengelolaan yang cermat sehingga menghasilkan dampak yang kita inginkan, yaitu perbaikan kualitas pembelajaran dan pendidikan di Indonesia.


Oleh karena itu, Kemendikbudristek memberikan opsi kurikulum sebagai salah satu upaya manajemen perubahan.


Perubahan kurikulum secara nasional baru akan terjadi pada 2024.


Ketika itu, Kurikulum Merdeka sudah melalui iterasi perbaikan selama 3 tahun di beragam sekolah/madrasah dan daerah.


Pada tahun 2024 akan ada cukup banyak sekolah/madrasah di tiap daerah yang sudah mempelajari Kurikulum Merdeka dan nantinya bisa menjadi mitra belajar bagi sekolah/madrasah lain.


Pendekatan bertahap ini memberi waktu bagi guru, kepala sekolah, dan dinas pendidikan untuk belajar. 


Proses belajar para aktor kunci ini penting karena proses belajar ini menjadi fondasi transformasi pendidikan yang kita cita-citakan.


Mari kita ingat, tujuan perubahan kurikulum adalah untuk mengatasi krisis belajar (learning crisis).


Kita ingin menjadikan sekolah sebagai tempat belajar yang aman, inklusif, dan menyenangkan.


Oleh karena itulah, Kemendikbudristek melakukan perubahan yang sistemik, tidak hanya kurikulum semata.


Kita melakukan reformasi sistem evaluasi pendidikan, menata sistem rekrutmen dan pelatihan guru, menyelaraskan pendidikan vokasi dengan dunia kerja, mendampingi dinas-dinas pendidikan, dan melakukan penguatan anggaran dan kelembagaan.


Perubahan sistemik tersebut tentu tidak bisa terjadi dalam sekejap.


Tahap demi tahap perubahan kurikulum harapannya dapat memberi waktu yang memadai bagi seluruh elemen kunci sehingga fondasi untuk transformasi pendidikan kita dapat tertanam kukuh dan teguh.

Posting Komentar untuk "Mengapa Kurikulum Merdeka tidak Langsung ditetapkan untuk Semua Sekolah?"